Alasan Pengajuan Kredit Ditolak

0

Pernahkah Anda mengalami penolakan saat pengajuan kredit ke perusahaan pembiayaan atau institusi keuangan lainnya?. Anda mengajukan permohonan kredit atau pinjaman, karena sangat membutuhkan dana ataupun unit barang yang akan dikreditkan tersebut, entah itu pinjaman dana, KTA, kredit mobil, kredit motor atau kredit elektronik,

Berharap permohonan kredit Anda disetujui, malah penolakan yang diterima tanpa alasan yang jelas / tidak diketahui pasti. Hal ini tentu saja membuat Anda penasaran, kecewa, atau mungkin juga bercampur sedikit emosi.

Untuk menghilangkan rasa getir dan penasaran Anda, penulis akan membeberkan alasan-alasan mengapa pengajuan kredit Anda ditolak, berdasarkan pengalaman penulis yang cukup lama berkecimpung di industri jasa keuangan.

1. Validitas Data, Informasi dan Dokumen

Setiap pengajuan kredit, nasabah diminta menuliskan data diri, data pekerjaan dan data referensi beserta nomor telpon yang bisa dihubungi. Serta melengkapi persyaratan dokumen kredit sesuai profesi calon nasabah, pegawai/karyawan, wiraswasta, atau professional.

Pihak perusahaan pembiayaan atau institusi keuangan lainnya akan melakukan verifikasi dan survey ketika permohonan kredit Anda akan disetujui. Pastikan data yang Anda berikan itu valid dan nomor telpon yang Anda tuliskan bisa dihubungi. Begitu juga dengan dokumen kredit yang Anda berikan itu bukan dokumen palsu.

Sebagai contoh; nomor telpon tidak bisa dihubungi setelah dicoba berkali-kali dihubungi oleh pihak multifinance/bank, alamat rumah/kantor/usaha yang keliru, tidak sesuai dengan data yang ditulis di formulir aplikasi, ketidaksesuaian jumlah penghasilan yang tercantum di slip gaji / surat keterangan penghasilan dengan hasil verifikasi ke pihak HRD, Anda tidak bekerja di perusahaan yang Anda tulis di formulir aplikasi, adanya unsur pemalsuan/penipuan data dan dokumen.

Kalau kondisinya seperti diatas, artinya sudah pasti pengajuan kredit Anda ditolak. Jadi, pastikan semua data, informasi dan dokumen yang Anda berikan benar adanya, tidak manipulatif.

2. Dokumen Kredit Tidak Terbaca

Pastikan semua dokumen kredit yang diminta oleh pihak multifinance/institusi keuangan lainnya telah Anda berikan, dan hasil fotokopi dokumen tersebut bisa dibaca dengan jelas.

Proses pengajuan kredit tidak akan berlanjut (pending), jika dokumen kredit yang Anda berikan tidak terbaca jelas.

3. Masa Kerja atau Lamanya Usaha Berjalan

Status karyawan masih dalam masa probation (percobaan), atau masa kontrak kerja Anda lebih rendah dibandingkan tenor kredit yang diajukan, dan belum ada kepastian perpanjangan kontrak baru, ataupun usaha Anda baru berjalan dengan masa kurang dari 1 atau 2 tahun, berpengaruh terhadap kepastian kredit untuk disetujui.

4. Kemampuan Bayar (Penghasilan) vs Pinjaman/Cicilan Kredit

Pagu kredit yang akan diberikan oleh multifinance/institusi keuangan lainnya akan disesuaikan dengan kondisi keuangan nasabah. Terutama dilihat dari berapa besar penghasilan Anda dan kemampuan Anda membayar angsuran kredit. Begitu juga jika Anda sebelumnya juga sudah memiliki cicilan kredit ditempat lain.

Umumnya, jika total cicilan kredit Anda tidak melebihi 30% dari penghasilan Anda, maka pinjaman Anda punya kemungkinan besar untuk disetujui. Jika jumlah pinjaman yang Anda ajukan terlalu besar dari penghasilan Anda, maka pihak multifinance/bank/kreditur lainnya akan menolak permohonan kredit tersebut. Kecuali jika Anda bisa membuktikan Anda mempunyai penghasilan/pendapatan lain dari pekerjaan/usaha sampingan, dengan income yang memadai.

5. Utang atau Tagihan Lainnya

Pertimbangan lainnya yang menjadi ukuran bagi pihak multifinance/bank/kreditur lainnya adalah jika Anda memiliki tagihan kartu kredit, cicilan kredit di multifinance/bank/kreditur lainnya, termasuk juga tagihan listrik/pam/telpon.

Jika semua tagihan atau utang Anda lainnya tersebut dibayar dengan disiplin dan tepat waktu, pengajuan kredit Anda lebih mudah untuk disetujui.

6. Faktor Risiko Pada Suatu Profesi

Ada beberapa profesi yang dianggap berisiko tinggi serta sulit untuk mendapatkan kucuran kredit. Akibatnya multifinance/bank berhati-hati dalam memberikan pinjaman/kredit.

Contoh, pekerja seni yang tidak memiliki penghasilan tetap, atau profesi dengan tingkat risiko kecelakaan yang tinggi, dan beberapa profesi lainnya.

7. Hasil BI Checking

Ketika nasabah mengajukan kredit, pihak kreditur (multifinance/bank) akan melihat rekam jejak Anda. Riwayat kredit yang buruk akan memperbesar kemungkinan pengajuan kredit Anda ditolak.

Beberapa multifinance memiliki kebijakan berbeda atas hasil BI Checking ini. Ada multifinance yang hanya menyetujui jika nasabah masuk kategori collect 1 (lancar), ada juga yang masih bisa meloloskan pengajuan kredit jika masuk kategori collect 2 (dalam perhatian khusus), bahkan hingga collect 3 (kurang lancar).

Jika riwayat kredit Anda sudah masuk kategori debitur macet (blacklist), tutuplah rapat-rapat keinginan Anda untuk mengajukan kredit ke multifinance/bank.

Namun, kalau Anda merasa pernah menunggak tapi telah melunasinya dan masih masuk dalam kategori jeblok, Anda bisa menanyakan ke bank terkait untuk update data. Karena umumnya bank tidak memperbaharui skor/kolektibilitas nasabah secara individu, tapi secara kolektif.

8. Rekomendasi Pihak Ketiga

Terdapat cara lain bagi pihak multifinance/bank dalam melakukan verifikasi data Anda. Hasil verifikasi atau survey yang dilakukan pihak kreditur biasanya diperoleh dari lingkungan tempat tinggal, tempat Anda bekerja ataupun rekanan bisnis Anda.

Informasi bisa didapat dari atasan/rekan kerja, orang tua, tetangga sekitar atau supplier/buyer Anda.

Nah, jika Anda sering dikunjungi oleh kolektor dari beberapa multifinance/bank baik ke rumah atau tempat kerja, maupun Anda sering kasbon ke kantor untuk melunasi tagihan kredit Anda, gali lubang tutup lubang. Maka biasanya akan terungkaplah informasi-informasi seperti itu dari pihak ketiga.

Analisis KreditBaca juga: Analisis Kredit

About Author

Founder Kreditpedia | Financial Services Professional.. Read more

Leave A Reply

error: Content is protected !!