Analisis Kredit

0

Semua kredit yang diberikan mengandung risiko, oleh karena itu setiap pemberian kredit harus dilakukan analisis secara cermat untuk mengetahui risiko-risiko yang mungkin timbul dan mencari solusi untuk mengatasinya, serta dapat membentuk account receivable yang berkualitas dan sehat.

Definisi Analisis Kredit

Analisis Kredit adalah kajian yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari suatu permohonan kredit.

Apa Tujuan Analisis Kelayakan Kredit?

Tujuan utama Analisis Kelayakan Kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada pihak pemberi kredit secara tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai kesepakatan dengan pihak kreditur.

Analisis kredit juga bertujuan agar kredit yang diberikan mencapai sasaran, yaitu aman dan terarah. Aman dengan pengertian kredit tersebut harus diterima kembali pengembaliannya secara tertib, teratur dan tepat waktu, sesuai perjanjian antara pihak kreditur dan nasabah. Sedangkan terarah, artinya kredit yang diberikan tersebut digunakan untuk tujuan seperti yang dimaksud dalam permohonan kredit dan sesuai dengan peraturan dan kesepakatan ketika diisyaratkan dalam akad kredit.

Siapa Yang Melakukan Analisis Kredit?

Analisis kredit dilakukan oleh pegawai yang ditugaskan oleh perusahaan untuk menganalisis permohonan kredit, seperti Account Officer/Credit Officer/Credit Analyst atau lainnya.

Setiap AO/CO/CA dalam melakukan analisis kredit dituntut memiliki keahlian dan keterampilan yang bersifat teknis maupun pengetahuan yang bersifat teoritis, memiliki pengetahuan yang memadai tentang aspek ekonomi, keuangan, manajemen, pemasaran, teknis, hukum serta memiliki wawasan yang luas mengenai prinsip-prinsip perkreditan. Disamping harus mempunyai mental dan integritas yang kuat.

Teknis analisis kredit dilakukan secara cermat dan teliti dengan selalu memperhatikan atau berpedoman pada ketentuan yang berlaku yang mencakup analisis kuantitatif dan analisis kualitatif, serta mengacu pada prinsip kehati-hatian (prudential regulations).

Apa Saja Prinsip-Prinsip Analisis Kredit?

Berikut beberapa prinsip dasar dalam menganalisis kredit yang lazim dikenal, yaitu:

  • Prinsip 5C
  • Prinsip 5P
  • Prinsip 3R

Prinsip 5 C

Character
Character adalah keadaan watak/sifat dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan kerja/usaha.

Beberapa parameter yang perlu diperhatikan dalam analisis karakter:

  • Aspek karakter yang diharapkan dari calon nasabah adalah bertanggung jawab, jujur, terbuka serta tidak ada indikasi negative/spekulasi.
  • Credit checking, melakukan verifikasi karakter bisnis calon nasabah dalam berhubungan dengan krediturnya, seperti perusahaan pembiayaan atau bank.
  • Trade checking, melakukan verifikasi karakter bisnis calon nasabah dalam menjalankan bisnisnya, berhubungan dengan customer dan supplier.
  • Usia, semakin bertambah usia umumnya semakin bertanggung jawab.
  • Status menikah, harmonis dan punya anak; bila seseorang sudah memiliki tanggungan umumnya tidak cenderung berspekulasi, orang yang bercerai (keluarga tidak harmonis) memiliki risiko yang lebih besar dari yang berstatus single ataupun menikah.
  • Lama usaha dan tempat tinggal, calon nasabah yang berniat menipu punya kecenderungan untuk berpindah-pindah tempat, dan semakin lama seseorang tinggal/bekerja disuatu tempat, maka lingkungan akan mengenali karakter calon nasabah dengan baik.
  • Sikap tanggung jawab didalam memenuhi kewajiban lainnya terhadap tagihan listrik, telpon, kreditur lain.
  • Mampu menjelaskan secara logis sumber penghasilan sehingga tim survey/analis kredit yakin akan kemampuan pembayaran angsurannya.

Capital
Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan kreditur akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit.

Kecukupan modal dibutuhkan mengingat penghasilan dan pengeluaran tidaklah stabil setiap bulannya, sehingga nasabah perlu memiliki kesiapan dana didalam menghadapi masa-masa/bulan-bulan “minim”, seperti kesiapan biaya untuk melahirkan (bila istri akan melahirkan), kesiapan biaya untuk anak masuk sekolah, kecukupan tabungan bila penghasilan tidak tetap setiap bulannya.

Capacity
Capacity adalah kemampuan yang dimiliki oleh calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan, atau bekerja guna memperoleh penghasilan yang cukup untuk membayar semua angsuran/kewajiban setiap bulan, memenuhi biaya-biaya rutin, biaya hidup sehari-hari pada setiap bulannya.

Yang umum digunakan dalam pengecekan capacity, seperti DSR, DIR, nilai penghasilan berdasarkan slip gaji/rekening tabungan, nilai omset berdasarkan rekening tabungan/koran, lama bekerja sebagai karyawan, status karyawan tetap/kontrak.

Condition
Condition adalah situasi dan kondisi politik, social, ekonomi, budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang berkemungkinan mempengaruhi kelancaran usaha / perusahaan tempat bekerja calon debitur.

Collateral
Collateral adalah barang/objek yang diserahkan oleh nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang diterima. Collateral tersebut harus dinilai oleh kreditur untuk mengetahui sejauh mana risiko kewajiban financial nasabah kepada kreditur. Risiko pemberian kredit dapat dikurangi sebagian atau seluruhnya dengan meminta collateral yang baik kepada nasabah.

Selain prinsip 5C diatas, terdapat prinsip 1C lainnya yaitu Constraint.

Constraint
Constraint adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis dilaksanakan pada tempat tertentu, keterbatasan atau hambatan yang tidak memungkinkan kredit diberikan.

Misalnya, pendirian usaha pompa bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran batu bata, kredit untuk modal peternakan babi di daerah yang mayoritas penduduknya muslim ataupun kredit bagi industri tertentu yang mempunyai limbah beracun dan berbahaya sehingga akan ditolak oleh penduduk sekitarnya.

Prinsip 5 P

Party (Golongan)
Yang dimaksud dengan party adalah mencoba menggolongkan calon debitur ke dalam kelompok tertentu menurut character, capacity dan capital-nya, dengan cara penilaian atas ke 3C tersebut

Purpose (Tujuan)
Yang dimaksud dengan purpose adalah tujuan penggunaan kredit yang diajukan, apa tujuan sebenarnya (real purpose) dari kredit tersebut, apakah mempunyai aspek-aspek social positif yang luas atau tidak. Bagaimana keterkaitan ke hulu (backward linkage) dan keterkaitan ke hilir (forward linkage). Selanjutnya kreditur/pemberi kredit juga harus meneliti apakah kreditnya benar-benar digunakan sesuai tujuan semula.

Payment (Sumber pembayaran)
Setelah diketahui real purpose dari kredit tersebut, maka perlu diestimasi kemungkinan besarnya pendapatan yang akan dihasilkan. Sehingga pihak kreditur dapat menghitung kemampuan dan kekuatan debitur untuk membayar kembali kreditnya, sekaligus dapat ditentukan cara pembayaran dan jangka waktu pengembalian kredit.

Profitability (Kemampuan memperoleh laba)
Yang dimaksud profitability disini bukan saja keuntungan yang dicapai oleh debitur saja, juga dinilai dan dihitung keuntungan yang akan didapat oleh kreditur jika memberikan kredit kepada debitur tertentu daripada memberikan kredit kepada debitur lain atau tidak memberikan kredit sama sekali.

Misalnya, debitur tertentu lebih sering menggunakan jasa-jasa bank selain kredit dibanding debitur-debitur lainnya. Disamping mengambil kredit, debitur tertentu memiliki deposito, sering melakukan kiriman uang dan sebagainya. Itu semua akan memberikan keuntungan-keuntungan materil dan psikologis tersendiri bagi kreditur/bank.

Protection (Perlindungan)
Proteksi dimaksudkan untuk mengantisipasi terhadap hal-hal yang tidak diduga sebelumnya, maka kreditur perlu melindungi kredit yang diberikannya dengan cara meminta jaminan/collateral dari debitur, bahkan baik agunan maupun kreditnya diasuransikan.

Prinsip 3 R

Returns (Hasil yang dicapai)
Returns artinya penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh usaha debitur setelah dibantu dengan pinjaman dari kreditur. Apakah hasil yang dicapai dapat menutupi untuk pengembalian pinjaman serta usaha yang dijalankan debitur terus berkembang atau tidak.

Returns disini bisa juga diartikan keuntungan yang akan diperoleh kreditur terhadap kredit yang diberikan kepada debitur.

Repayment (Pembayaran kembali)
Dalam hal ini, kreditur harus menilai berapa lama usaha debitur dapat membayar kembali pinjamannya sesuai dengan kemampuan membayar kembali (repayment capacity) dan apakah kredit harus diangsur/cicil atau dilunasi sekaligus diakhir periode.

Risk bearing ability (Kemampuan untuk menanggung risiko)
Dalam hal ini, kreditur harus mengetahui dan menilai sampai sejauh mana usaha debitur mampu menanggung risiko kegagalan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan memiliki modal yang kuat, usaha debitur biasanya akan lebih kuat juga dalam menghadap/memenangkan persaingan dengan pihak lain. Disamping itu, kemampuan menanggung risiko juga ada dipihak kreditur, yaitu dengan cara meminta jaminan/agunan dari debitur tersebut.

Walaupun prinsip-prinsip 5P dan 3R merupakan konsep mutakhir yang dikembangkan, namun pada dasarnya kedua prinsip tersebut berlandaskan atas prinsip 5C, sehingga hampir tidak ada perbedaan mendasar antara ke 3 prinsip tersebut. Prinsip 5C lebih lazim dan popular digunakan dikalangan para pelaku industri jasa keuangan/pembiayaan.

Referensi:
– Credit Management Handbook, Prof. Dr. H Veithzal Rivai, MBA & Andri Permata Veithzal, MBA
– Manajemen Perkreditan Bank Umum, H. Rahmat Firdaus, Drs, Msi & Maya Ariyanti, SE, MM
– Analisis Kredit, Drs. H. Hadiwidjaja, Akuntan & Drs. Ec. R.A. Rivai Wirasasmita, MS

Pengertian Kredit, Unsur, Fungsi dan JenisnyaBaca juga: Pengertian Kredit, Unsur, Fungsi dan Jenisnya

About Author

Founder Kreditpedia | Financial Services Professional.. Read more

Leave A Reply

error: Content is protected !!