Di era digital di mana segalanya serba instan, pinjaman online atau pinjol seolah menjadi sahabat setia bagi Gen Z (Generasi Z). Bayangkan, dana bisa cair dalam hitungan menit, cukup dengan scan KTP via aplikasi, tanpa ribet ke bank.
Namun, di balik kemudahan itu, pinjol justru menjadi jebakan yang mengancam masa depan finansial ribuan anak muda Indonesia.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025 menunjukkan, kelompok usia 19-34 tahun—termasuk Gen Z dan milenial—menyumbang Rp37,87 triliun dari total utang pinjol Rp75,44 triliun, dengan jumlah rekening penerima sebanyak 14 juta entitas.
Selain menjadi kelompok peminjam terbesar, dua generasi ini juga tercatat sebagai penyumbang gagal bayar (galbay) terbesar. Galbay Gen Z dan milenial mencapai Rp1,51 triliun. Jumlah ini setara dengan 91,92% dari seluruh kredit macet pinjol per Maret 2025.
Dalam artikel ini, Kreditpedia akan mengupas tren, risiko, dan solusi literasi keuangan agar Gen Z tak lagi jadi “korban manis” pinjol.
Tren Pinjol di Kalangan Gen Z: Instan, Tapi Mahal
Pinjol bukan lagi barang langka bagi Gen Z yang kini berusia 13-28 tahun dan tumbuh bersama smartphone.
Survei Jakpat paruh kedua 2024 mengungkapkan, 42% Gen Z menggunakan pinjol untuk kebutuhan sehari-hari, sementara 62% untuk kebutuhan mendesak, dan 35% untuk membayar tagihan.
Bahkan, riset APJII 2025 mencatat 41,44% pengguna pinjol adalah Gen Z, kalah tipis dari milenial (45,15%), dengan alasan utama memakai pinjol adalah untuk membeli barang dengan cicilan tanpa kartu kredit (23%), kebutuhan mendadak (21,77%), dan belanja kebutuhan sehari-hari (17,73%).
Fenomena ini disebabkan oleh gaya hidup konsumtif dan media sosial memicu FOMO/YOLO (Fear of Missing Out / You Only Live One), untuk terus mengikuti tren dan memenuhi keinginan gaya hidup (fast fashion, fast food) secara instan. Sementara pendapatan Gen Z yang masih entry-level (rata-rata Rp2-3 juta/bulan), tak sebanding dengan godaan yang datang.
Pada Mei 2025, nilai penyaluran pinjol nasional tembus Rp28,67 triliun, naik 9% dari bulan sebelumnya, di mana Gen Z berkontribusi signifikan atas itu melalui layanan paylater, untuk belanja fashion (66%) dan elektronik (41%).
Tak heran, unduhan aplikasi pinjol mencapai 222 juta kali di 2023, bersaing dengan populasi Indonesia yang berjumlah sekitar 278 juta jiwa.
Risiko Tersembunyi: Dari Utang Gali Lubang Tutup Lubang Hingga Krisis Mental
Kemudahan pinjol datang dengan harga mahal. Gen Z rentan karena literasi keuangan rendah—indeks hanya 44,04% untuk usia 15-17 tahun, paling bawah di antara generasi lain.
Akibatnya, sebanyak 58% Gen Z mengambil pinjol untuk memenuhi gaya hidup dan hiburan, beda dengan milenial yang melakukan pinjaman online untuk kebutuhan praktis (usaha 45%, kesehatan 44%, pendidikan 30%).
Dan rata-rata utang Gen Z senilai Rp5,1 juta per orang, hampir dua kali lipat milenial (Rp2,6 juta), dengan 91% debitur berisiko tinggi.
Risiko Utama Jebakan Manis Pinjol:
- Bunga dan Denda Tinggi: Suku bunga pinjol bisa sangat tinggi, diperparah dengan denda harian yang membengkak jika telat bayar.
- Jeratan Utang: Kemudahan pinjol bisa membuat Gen Z terus meminjam untuk menutupi utang lama, sehingga menciptakan lingkaran utang tak berujung.
- Penagihan Tidak Etis, Cenderung Brutal: Data pribadi bisa disebar ke kontak anda atau digunakan untuk meneror demi memaksa pembayaran sehingga memicu depresi.
- Dampak Psikologis: Cemas, stres, dan rasa takut akibat utang dan cara penagihan yang dapat mengganggu kesehatan mental. Sehingga Gen Z menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga (isolasi sosial).
Jika tidak dilakukan edukasi sedini mungkin, praktik gali lubang tutup lubang ini dapat merusak masa depan bonus demografi Indonesia.
Baca juga: e-Wallet atau Dompet Digital, Aplikasi dan Keunggulannya
Mengapa Gen Z Rentan Terjerat?
Gen Z, yang lahir antara 1997-2012 dan berjumlah sekitar 75,49 juta jiwa di Indonesia (27,94% dari populasi), dikenal sebagai “digital natives” yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka menghabiskan 7-13 jam sehari di internet, membuat mereka mudah mengakses pinjol.
Namun, kemahiran digital ini justru menjadi pisau bermata dua karena disertai dengan rendahnya literasi keuangan, yang membuat mereka rentan terjebak.
Alasan Utama Kerentanan Gen Z:
1. Kurangnya Literasi Keuangan
Tingkat literasi keuangan Gen Z di Indonesia hanya sekitar 44,04%, lebih rendah daripada generasi milineal, menurut survei OJK. Banyak dari mereka tidak memahami konsep bunga majemuk, biaya tersembunyi, atau risiko utang jangka panjang.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan bahwa meski inklusi keuangan tinggi (akses produk keuangan mudah), tapi kapasitas mengelolanya masih rendah.
Akibatnya, Gen Z sering menganggap pinjol sebagai “jalan pintas” tanpa menyadari bahwa utang konsumtif bisa membengkak hingga tak terkendali.
2. Pengaruh Media Sosial dan Gaya Hidup Konsumtif
Media sosial seperti TikTok atau Instagram memperburuk situasi dengan konten influencer yang memamerkan gaya hidup mewah, memicu FOMO. Gen Z sering meminjam dana untuk membeli gadget, fashion, atau memenuhi tren, bukan untuk kebutuhan produktif.
Contohnya, promo pinjol yang dikemas seperti “diskon pizza” atau “financial hacks” untuk beli barang mewah seperti Air Jordan, tanpa edukasi risiko.
Ditambah lagi, algoritma medsos mempersonalisasi iklan pinjol sehingga membuatnya tampak relatable dan menggoda.
3. Kemudahan Akses dan Strategi Pemasaran Agresif
Proses pinjol sangat sederhana–cukup unduh aplikasi, isi data, dan cair dalam hitungan menit–tanpa jaminan atau dokumen rumit.
Penyedia pinjol memanfaatkan ini dengan iklan persuasif di medsos, kolaborasi influencer, dan fitur gamifikasi seperti reward poin untuk cicilan tepat waktu. Gen Z yang terbiasa dengan solusi instan, mudah tergoda karenanya.
Akhirnya, konten edukatif tentang pengelolaan keuangan pun bisa kalah populer dibanding konten yang lebih bombastis dan menjanjikan hasil instan.
4. Manajemen Keuangan Buruk dan Tekanan Ekonomi
Banyak Gen Z belum terbiasa mencatat pemasukan-pengeluaran, sehingga tidak tahu ke mana uangnya hilang. Ditambah tekanan persaingan kerja, biaya hidup tinggi, dan disrupsi teknologi, menyebabkan mereka sering meminjam untuk “atur cashflow” sementara, tapi berujung kredit macet.
Data OJK menunjukkan utang macet Gen Z di pinjol terus meningkat, mengancam masa depan mereka seperti sulit dapat pekerjaan atau beasiswa.
Bagaimana Melawannya?
Gen Z tak harus anti-pinjol, tapi perlu bersikap bijak. Melawan jebakan pinjol memerlukan kombinasi kesadaran pribadi, edukasi, dan dukungan sistemik.
Cara Konkret yang Bisa Diterapkan Melawan Jebakan Pinjol:
1. Tingkatkan Literasi Keuangan
Mulai dari dasar, seperti memahami bunga, biaya, dan risiko utang. Ikuti program edukasi gratis dari OJK, platform digital perencanaan keuangan pribadi, atau kursus online tentang pengelolaan keuangan. Integrasikan hal ini ke pendidikan sekolah atau komunitas untuk membangun kebiasaan sejak dini.
Contoh: Gunakan aplikasi keuangan untuk melacak pengeluaran harian, agar tahu mana kebutuhan vs keinginan.
2. Bijak Dalam Penggunaan Pinjol
Gunakanlah pinjol hanya untuk keperluan produktif, seperti untuk modal usaha, bukan untuk memenuhi gaya hidup.
Sebelum mengajukan pinjol, selalu verifikasi legalitas penyedia pinjol melalu daftar resmi OJK. Bacalah syarat dan ketentuan secara teliti, perhatikan bunga (jangan melebihi batas wajar, denda, dan biaya admin), sebelum klik setuju (approval).
Hindari pinjol ilegal yang tak terdaftar di OJK, karena risikonya lebih tinggi seperti penagihan intimidatif.
3. Bangun Kebiasaan Finansial Sehat
Buat dana darurat dengan sisihkan 10-20% pendapatan bulanan untuk kebutuhan mendadak, sehingga tak perlu meminjam. Pelajari dasar keuangan dengan memahami anggaran 50/30/20, yaitu 50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/investasi.
Kurangi pengaruh FOMO dengan membatasi waktu medsos dan unfollow akun-akun yang mempromosikan gaya hidup konsumtif. Beralihlah ke konten edukatif, seperti tips budgeting atau investasi sederhana.
Jika butuh bantuan dana, pertimbangkan pinjaman dari keluarga, bank atau perusahaan multifinance yang lebih aman.
4. Investasi Kecil-Kecilan
Mulailah berinvestasi reksadana Rp10ribu melalui aplikasi investasi digital populer seperti Bibit atau Ajaib, dibandingkan mengambil pinjaman atau berbelanja barang konsumtif. Ini merupakan langkah awal membangun wealth, bukan utang.
5. Penerapan Frugal Living
Gaya hidup hemat cocok ala Gen Z, seperti beli preloved, memasak di rumah daripada nongkrong mahal sana-sini. Membangun kebiasaan menabung serta lebih berfokus pada investasi untuk masa depan
6. Dukungan dari Pihak Lain
Pemerintah dan OJK perlu memperketat regulasi pemasaran pinjol di e-commerce dan medsos, serta tindak tegas pinjol yang ilegal.
Dengan langkah-langkah ini, Gen Z bisa memanfaatkan kemahiran digital mereka untuk membangun kestabilan finansial, bukan malah terjerat utang.
Gen Z, Waktunya Switch dari Pinjol ke Power Finansial
Pinjol seperti pedang bermata dua: penyelamat sementara, tapi pemusnah jangka panjang bagi Gen Z yang literasinya masih rendah.
Dengan tren utang Rp37 triliun dan macet 91% dari anak muda, Indonesia berisiko kehilangan bonus demografi jika tak bertindak.
Mulai hari ini, bangunlah kebiasaan bijak: edukasi diri, hemat cerdas, dan investasi awal. Ingat, kemandirian keuangan dimulai dari keputusan kecil hari ini. Jangan biarkan “manis” sementara merusak masa depan.
Gen Z, yuk ubah narasi dari “terjerat pinjol” jadi “menguasai-mengendalikan uang”.
Sumber: OJK, Jakpat, APJII, dan sumber lainnya.

