2025 menjadi tahun yang cukup berat bagi industri multifinance. Di mana kinerja laba perusahaan multifinance sepanjang 2025 mengalami berbagai tekanan, seperti akibat melemahnya daya beli masyarakat, perlambatan pembiayaan baru, dan tingginya angka kredit macet NPF (Non Perfoming Financing), serta biaya dana yang masih relatif tinggi.
Bagaimana gambaran pencapaian kinerja pembiayaan, aset, serta laba, sekaligus kualitas kredit dari sejumlah emiten multifinance sepanjang 2025? Kreditpedia coba memaparkannya berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.
WOM Finance
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp142,55 miliar sepanjang 2025. Capaian ini turun 45,77% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba Rp262,91 miliar pada 2024.
Penurunan ini terutama dipicu oleh lonjakan pembentukan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai). Pembentukan CKPN melonjak 26,75% menjadi Rp452,77 miliar secara tahunan, sehingga menggerus profitabilitas WOMF.
Sedangkan pendapatan emiten di bawah kendali Bank Maybank Indonesia ini relatif stabil. Pada 2025, WOM Finance mencatat total pendapatan Rp2,16 triliun, naik tipis 0,12% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,16 triliun.
Peningkatan tersebut didukung oleh penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp5,94 triliun, atau tumbuh 9,35 persen year on year. Di mana, penyaluran pembiayaan multiguna, modal kerja, dan investasi sebesar Rp1,80 triliun, yang relatif stagnan dibandingkan Rp1,81 triliun pada 2024. Sementara pendapatan lain-lain WOMF sebesar Rp297,16 miliar pada 2025.
Di sisi lain, total beban meningkat 8,53% menjadi Rp1,99 triliun pada 2025, dari Rp1,83 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban perseroan tersebut antara lain meliputi beban umum dan administrasi, beban gaji dan tunjangan, beban pendapatan dan keuangan, serta pembentukan CKPN.
Sementara total aset per akhir 2025 tercatat Rp7,37 triliun, tumbuh 6,08% dibandingkan Rp6,94 pada 2024. Dan ekuitas juga menguat 4,81% menjadi Rp1,98 triliun.
CIMB Niaga Auto Finance
PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menutup tahun 2025 dengan kinerja yang tetap terjaga di tengah dinamika industri pembiayaan, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp2,23 triliun atau tumbuh 9,31% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,04 triliun.
Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan total aset sebesar 6,04% menjadi Rp11,46 triliun dari Rp10,81 triliun pada 2024, serta total aset kelolaan yang meningkat 3,93% menjadi Rp13,66 triliun dari Rp13,14 di 2024.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih perusahaan multifinance anak usaha Bank CIMB Niaga ini tercatat sebesar Rp322,75 miliar pada 2025, menurun sekitar 30,5% dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp464,35 miliar.
Sepanjang 2025, CNAF mencatatkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp9,25 triliun. Capaian ini turut mendorong peningkatan pangsa pasar pembiayaan kendaraan bemotor menjadi 6,11%.
Adira Finance
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk membukukan laba bersih Rp1,54 triliun sepanjang 2025, terkoreksi 14,7% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang tercatat Rp1,81 triliun.
Padahal, dari sisi pendapatan, Adira Finance mencatat pertumbuhan. Total pendapatan meningkat 2,89% menjadi Rp12,13 triliun pada 2025 dari Rp11,79 triliun pada tahun sebelumnya. Kontributor terbesar pendapatan berasal dari pembiayaan konsumen yang tumbuh 5% menjadi Rp7,56 triliun, dari tahun sebelumnya Rp7,16 triliun. Pendapatan sewa pembiayaan juga melonjak 58% menjadi Rp421,51 miliar dibandingkan Rp266,46 miliar pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan total beban sebesar 6,7% menjadi Rp10,14 triliun dari Rp9,50 triliun pada tahun sebelumnya. beberapa pemicu kenaikan beban operasional yaitu beban gaji dan tunjangan, beban umum dan administrasi, serta pemasaran.
Total aset Adira Finance relatif stabil, tercatat Rp38,53 triliun pada akhir 2025 dibandingkan posisi Rp38,37 pada 2024.
Clipan Finance
PT Clipan Finance Indonesia Tbk juga mencatat penurunan laba, meski relatif tipis. Laba bersih tahun berjalan turun 1,20% menjadi Rp212,22 miliar pada 2025 dibandingkan Rp214,80 miliar pada 2024.
Penurunan laba sejalan dengan berkurangnya pendapatan perusahaan. Total pendapatan CFIN tercatat sebesar Rp1,62 triliun pada 2025, menyusut 9,29% dari Rp1,79 triliun pada tahun sebelumnya.
Pendapatan pembiayaan konsumen masih menjadi kontributor terbesar, meski menurun 9,83% menjadi Rp1,19 triliun dibandingkan Rp1,31 triliun pada 2024.
Sementara itu, pendapatan sewa pembiayaan tumbuh 8,25% menjadi Rp73,94 miliar pada 2025, dari Rp68,30 miliar pada tahun sebelumnya. Dan pendapatan dari jual dan sewa balik melonjak 67,02% menjadi Rp11,54 miliar dibandingkan Rp6,91 miliar pada 2024.
Di sisi beban, Clipan Finance mencatat penurunan menjadi Rp1,36 triliun dari Rp1,52 triliun pada 2024. Total aset perseroan turun 5,83% menjadi Rp9,52 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp10,11 triliun pada tahun sebelumnya.
Fuji Finance
Penurunan laba juga terjadi pada PT Fuji Finance Indonesia Tbk. Laba bersih tahun berjalan turun 24% menjadi Rp8,35 miliar pada 2025 dari Rp11,04 miliar pada 2024. Penurunan tersebut terjadi di tengah kenaikan beban yang melonjak 340% menjadi Rp5,55 miliar dari Rp1,26 miliar pada 2024.
Sementara pendapatan masih tumbuh 4,50% menjadi Rp15,30 miliar pada 2025, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp14,64 miliar.
Pendapatan pembiayaan menjadi penopang terbesar tercatat Rp8 miliar, sementara pendapatan bunga naik 114% menjadi Rp3,15 miliar, dan pendapatan lain-lain melonjak 459% menjadi Rp4,15 miliar secara tahunan.
Total aset Fuji Finance menjadi Rp188,90 miliar pada akhir 2025, tumbuh sebesar 7% dibandingkan Rp176,52 miliar pada akhir 2024.

Meskipun industri multifinance dan otomotif menghadapi berbagai tantangan, namun beberapa perusahaan multifinance menutup tahun 2025 dengan kinerja yang tetap tumbuh positif, berhasil meningkatkan pembiayaan, aset, serta laba, sekaligus memperbaiki kualitas pembiayaannya. Berikut di antara perusahaan tersebut, yaitu:
FIF Group
PT Federal International Finance (FIF) mencatatkan kinerja positif pada 2025. Anak usaha Astra International ini membukukan laba bersih sebesar Rp4,63 triliun, naik tipis 4,92% dari Rp4,42 triliun pada 2024.
Kenaikan laba tersebut salah satunya ditopang oleh penyaluran pembiayaan FIF Group yang mencapai Rp49,45 triliun pada 2025, atau tumbuh 7,64% secara year on year.
Jumlah penghasilan FIF meningkat 11,19% yoy menjadi Rp13,51 triliun. Kontributor utama berasal dari pembiayaan konsumen yang tumbuh 14% yoy menjadi Rp10,89 triliun. Penghasilan bunga dan denda juga naik 11% yoy menjadi Rp203,11 miliar.
Namun, beban perusahaan meningkat 16,64% yoy menjadi Rp7,56 triliun. Meski demikian, pertumbuhan pendapatan masih mampu menopang kenaikan laba. Total aset FIF tumbuh 13% yoy menjadi Rp51,88 triliun pada akhir 2025.
Di sisi kualitas pembiayaan, angka NPF FIF berada di level 0,20%, alhasil menempatkan perusahaan dalam kategori sangat sehat sesuai standar regulator.
Astra Sedaya Finance
PT Astra Sedaya Finance (ASF) membukukan laba bersih Rp1,96 triliun, naik tipis dari periode 2024 yang sebesar Rp1,94 triliun.
Sepanjang 2025, pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp6,63 triliun, turun tipis dari Rp6,75 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, Penurunan ini terutama dipicu berkurangnya pendapatan pembiayaan konsumen menjadi Rp5,33 triliun dari Rp5,59 triliun pada 2024, serta turunnya marjin murabahah.
Meski demikian, penurunan CKPN dari Rp998 miliar pada 2024 menjadi Rp748 miliar pada 2025 turut menopang kinerja laba. Seiring dengan itu, total beban perusahaan pun turun menjadi Rp4,15 triliun pada 2025, dari Rp 4,28 triliun pada 2024.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan meningkat menjadi Rp42,26 triliun, dari sebelumnya Rp41,12 triliun pada 2024. Ditopang pertumbuhan piutang pembiayaan konsumen sebesar Rp32,8 triliun pada akhir 2025, meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp31,69 triliun, peningkatan bagi hasil musyarakah dan aset derivatif lainnya,
Pada periode yang sama, total liabilitas ASF tercatat sebesar Rp30,93 triliun, relatif stabil dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Ro30,79 triliun. Sedangkan ekuitas mencapai Rp11,33 triliun, meningkat dari Rp10,34 triliun di 2024.
BFI Finance
PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,58 triliun pada 2025, meningkat tipis 1,28% dibandingkan Rp1,56 triliun pada 2024. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh peningkatan total pendapatan sepanjang tahun lalu.
Total pendapatan BFIN tercatat naik 6,5% sebesar Rp6,74 triliun pada 2025, dari Rp6,33 triliun pada 2024. Hal ini didukung capaian pembiayaan baru yang tumbuh hingga 9,3% menjadi Rp21,9 triliun sepanjang 2025. Selain itu, piutang kelolaan perseroan juga naik 8,9% mencapai Rp26,3 triliun.
Di sisi lain, meski pembiayaan baru dan piutang kelolaan BFI bertumbuh, rasio NPF bruto justru membengkak dari 1,25% menjadi 1,39%, dan NPF netto naik tipis dari 0,21% menjadi 0,22%. Namun, posisi tersebut masih tetap lebih rendah dari rata-rata NPF industri yang berada di level bruto 2,51% dan neto 0,77%.
Selain itu, total beban perseroan meningkat menjadi Rp4,77 triliun pada 2025 dari Rp4,40 triliun pada 2024.
Dari sisi neraca, total aset perseroan per akhir 2025 tercatat sebesar Rp25,47 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp25,11 triliun. Total liabilitas tercatat sebesar Rp14,82 triliun, turun dari Rp14,93 triliun.
Adapun total ekuitas mencapai Rp10,65 triliun, dengan laba per saham Rp103 pada 2025, sedikit turun dari 2024 sebesar Rp104.
Mandiri Utama Finance
PT Mandiri Utama Finance (MUF) mencatatkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp24,1 triliun sepanjang 2025. Realisasi tersebut tumbuh sekitar 12% dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 21,6 triliun.
Sejalan dengan peningkatan pembiayaan baru, total aset pembiayaan MUF juga mencapai Rp40 triliun pada akhir 2025. Nilai tersebut meningkat dari posisi Rp35 triliun pada 2024 dan Rp30 triliun pada 2023.
Dari sisi profitabilitas, MUF, multifinance yang dimiliki oleh Bank Mandiri ini membukukan laba bersih sekitar Rp400 miliar pada 2025 atau meningkat 33% dibandingkan 2024 yang mencapai Rp300 miliar. Return on equity (RoE) perusahaan juga berada di kisaran 20–24%, lebih tinggi dibanding rata-rata industri multifinance yang berada di sekitar 10% pada periode yang sama.
Selain itu, pangsa pasar MUF di segmen pembiayaan mobil juga terus meningkat. Hingga akhir 2025, market share pembiayaan mobil perusahaan hampir mencapai 9%, naik dari sekitar 6,7% pada tahun sebelumnya.
Perbaikan kinerja pun diikuti oleh peningkatan kualitas pembiayaan, rasio NPF turun ke 1,3% dan net credit loss turun menjadi 4% pada akhir 2025 dari sebelumnya 5% di 2024.
Itulah 9 perusahaan multifinance dengan catatan kinerja yang beragam, ada yang mencatatkan penurunan laba, ada yang naik tipis, ada pula yang membukukan pertumbuhan laba cukup signifikan sepanjang 2025.
Sumber: Kontan, Neraca, IDN Financials, Warta Ekonomi, Katadata
Baca juga: Istilah-Istilah Dalam Perkreditan dan Bisnis Pembiayaan

