Fenomena Job Hugging, Tetap Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Fenomena Job Hugging

Job hugging adalah tren ketenagakerjaan terkini di mana pekerja memilih bertahan di posisi saat ini meskipun merasa tidak puas, tidak termotivasi, tidak berkembang atau tidak ada peluang kemajuan.

Mereka “memeluk” pekerjaan mereka erat-erat karena rasa takut dan ketidakpastian pasar kerja, bukan karena loyalitas atau kepuasan.

Fenomena ini muncul sebagai kebalikan dari job hopping atau sering gonta-ganti pekerjaan demi kenaikan gaji atau cari peluang lebih baik, yang populer selama era Great Resignation pasca-pandemi Covid-19.

Pada 2021-2022, job hopping lebih populer, banyak pekerja resign untuk mencari gaji yang lebih tinggi, work-life balance yang lebih baik, ataupun mendapatkan peluang baru.

Kini, pada 2025-2026, tingkat pengunduran diri sukarela (voluntary turnover) turun drastis ke level terendah, job hopping makin jarang karena generasi muda takut melepaskan pekerjaan, cenderung memilih bertahan, bukan mengejar perubahan.

Latar Belakang dan Penyebab Job Hugging

Fenomena job hugging viral setelah laporan Glassdoor Worklife Trends 2025 menunjukkan pasar kerja lesu dengan perekrutan lambat. Akibatnya, banyak pekerja terjebak dalam karier mereka. Menurut Glassdoor, hampir 2 dari 3 (65 persen) responden merasa ‘terjebak’ dalam peran saat ini. Bahkan di bidang teknologi, angkanya mencapai 73 persen.

Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian menjadi pendorong utama: inflasi, ancaman resesi, gelombang PHK di sektor teknologi dan keuangan, serta perlambatan perekrutan membuat pekerja enggan mengambil risiko.

Faktor-faktor Utama Penyebab Job Hugging

Ketidakpastian/Ketakutan Ekonomi — Banyak yang takut sulit mendapat pekerjaan baru dengan gaji setara atau lebih baik. Laporan Monster’s 2025 Job Hugging Report menyebut hampir 50% pekerja bertahan karena rasa takut dan ketidakpastian.

Pasar Kerja yang Ketat — Peluang kerja baru yang lebih terbatas. Jumlah lowongan kerja menurun, sementara persaingan dalam mencari kerja semakin ketat.

Stabilitas sebagai Prioritas — Di tengah kenaikan biaya hidup, memiliki pekerjaan tetap terasa seperti “pelabuhan aman”.

Dampak AI dan Otomatisasi — Kekhawatiran pekerjaan digantikan teknologi membuat orang menjadi lebih berhati-hati.

Pengalaman Pasca-Great Resignation — Mereka yang dulu “hopping” realitanya tidak selalu mendapat hasil optimal, sehingga yang lain memilih “main aman”.

Di Indonesia, fenomena serupa juga muncul. Data BPS dan survei menunjukkan pendapatan stagnan atau menurun bagi sebagian masyarakat, membuat pekerja enggan berpindah meski pekerjaan tidak lagi menantang. Pengamat dari UGM menyebut hal ini bisa menekan produktivitas nasional.

Baca juga: Istilah-Istilah Dalam Perkreditan dan Bisnis Pembiayaan

Dampak Job Hugging

Bagi Pekerja:

Sisi positifnya, pekerja tidak ambil risiko dan tetap punya penghasilan (rasa aman finansial jangka pendek), serta menghindari stres karena mencari kerja baru.

Sedangkan sisi negatifnya, karir bisa stagnan, skill/keterampilan tertinggal dan tidak berkembang, peluang baru makin jauh, potensi gaji lebih rendah untuk jangka panjang (karena kenaikan gaji biasanya lebih besar saat pindah perusahaan). Bisa menimbulkan burnout, disengagement, dan penyesalan di masa depan.

Bagi Perusahaan:

Sisi positifnya, turnover karyawan rendah, biaya rekrutmen dan pelatihan hemat, serta kontinuitas operasional.

Adapun sisi negatifnya ialah produktivitas dan inovasi menurun karena karyawan “quietly disengaged”. Mereka bertahan tapi tidak berkontribusi maksimal. Sulit merekrut talenta baru karena sedikit orang yang keluar.

Secara makro, job hugging bisa memperlambat mobilitas tenaga kerja, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan “talent trap” di mana perusahaan jadi kurang dinamis.

Strategi Mengatasi Job Hugging

Bagi Pekerja:

  • Evaluasi karir secara rutin: Apakah Anda bertahan karena takut atau memang masih ada nilai?
  • Bangun “side hustle”, melakukan pekerjaan atau usaha sampingan di luar pekerjaan utama untuk mendapatkan penghasilan tambahan
  • Aktif membangun jaringan (networking) tanpa resign terlebih dahulu.
  • Siapkan dana darurat dan update CV secara berkala.
  • Pertimbangkan internal mobility (pindah divisi di perusahaan sama) untuk variasi tanpa menghadapi risiko besar.
  • Upgrade skill, tambah wawasan, dan siapkan diri untuk peluang berikutnya. Karena di dunia kerja hari ini, yang aman bukan yang diam, tapi yang siap berubah.

Bagi Perusahaan:

  • Tingkatkan employee engagement melalui pengakuan, peluang pengembangan, dan kompensasi kompetitif.
  • Lakukan stay interview untuk memahami kekhawatiran karyawan.
  • Berikan proyek menantang dan jalur karir internal yang jelas.
  • Bangun budaya transparansi tentang kondisi perusahaan.

Keseimbangan adalah Kunci

Job hugging mencerminkan adaptasi manusia terhadap ketidakpastian, tapi bukan solusi jangka panjang. Di dunia yang semakin cepat berubah karena teknologi dan globalisasi, stagnasi bisa berbahaya. Pekerja dan perusahaan perlu menemukan keseimbangan: menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan. Karir yang sehat bukan hanya soal bertahan, melainkan tetap bertumbuh dan adaptif.

Bagi generasi muda yang baru masuk dunia kerja, fenomena ini menjadi pelajaran berharga: keamanan penting, tapi keberanian mengambil risiko terukur tetap menjadi modal utama membangun karir sukses.

Di era sekarang ini, “hugging” boleh buat sementara, tapi jangan sampai menjadi jebakan yang membatasi potensi. Fenomena ini kemungkinan akan berlanjut selama ketidakpastian ekonomi global belum reda. Yang terpenting adalah kesadaran diri: Apakah Anda sedang job hugging, atau memang berada di tempat yang tepat?

Baca juga: Profesi-Profesi di Perusahaan Pembiayaan yang Banyak Dicari

About the author

Ferry

Penulis memiliki pengalaman sebagai praktisi keuangan di bidang pembiayaan dan perkreditan.