Seni Berkompetisi Ala Sun Tzu

0

Dalam era pasar global, persaingan ekonomi dan bisnis dalam skala yang lebih besar, semakin keras dan semakin sulit untuk dimenangkan daripada konfrontasi militer. Untuk bertarung dan memenangkan kompetisi, selain harus memahami paradigma baru dari kompetisi, kita juga harus punya kesiapan bertempur. Strategi yang maju dan kompetitif perlu dirancang dengan cara yang sama seperti strategi militer. Itulah pentingnya menguasai seni perang, seni berkompetisi.

Seni Berkompetisi (Ala Sun Tzu) ini berangkat dari Kisah-kisah Kebijaksanaan China Klasik – Refleksi Bagi Para Pemimpin karya Michael C Tang, yang didasarkan pada Seni Perang Sun Tzu. Penulis coba mengupasnya untuk Anda, para pembaca setia.

Organisasi dan Kepemimpinan

Perang adalah hal yang serius, tulis Michael C. Tang. Dampaknya tergantung pada apakah itu hanya sekedar perang dan adakah kepemimpinan militer yang bijaksana terlibat didalamnya. Perang bergantung pada kondisi geografis, cuaca, jarak dan jangkauan medan perang. Pengorganisasian, logistik, dan komunikasi memainkan peranan penting.

Mengatur pasukan adalah problema pengorganisasian. Mengatur pasukan kecil sama peliknya seperti mengatur pasukan besar. Dalam memerintah pasukan kecil atau pasukan besar, komunikasi yang baik menjadi penting dan kunci kesuksesan.

Seorang jenderal bertugas mempertahankan negaranya. Raja harus percaya penuh kepadanya. Jika raja ikut campur dalam keputusan jenderal, akan menyebabkan kebingungan dan membawa bencana di dalam ketentaraan.

Perang penuh dengan ketidakpastian. Adakalanya jenderal tidak perlu menaati perintah raja. Berperang hanya ketika dia yakin akan menang, meskipun raja memerintahkan dia untuk tidak berperang, dia harus berperang. Sebaliknya, walaupun raja memerintahkan dia untuk berperang, dia seharusnya tidak berperang, jika dia percaya dia akan kalah. Janganlah mencobai musuh dengan harapan untuk menang karena keberuntungan.

Keputusan untuk berperang atau tidak, bukan karena pertimbangan pribadi seperti malu atau ketenaran, tapi karena keputusan itulah yang terbaik untuk negara.

Jenderal yang baik tulis Michael, mengetahui kapan harus berperang dan kapan tidak, selalu siap untuk mengambil kesempatan baik yang muncul secara tiba-tiba, mengetahui bagaimana menggunakan pasukan kecil sama halnya seperti menggunakan pasukan besar, dan dengan sepenuh hati mendukung prajuritnya, memiliki kompetensi dan terbebas dari pengaruh raja.

Jenderal yang bagus, mampu memberi komando sejumlah prajurit seperti memberi komando kepada satu orang. Sering mengobrol dengan prajuritnya untuk menciptakan rasa saling percaya. Ketika jenderal memperlakukan prajuritnya seperti anaknya sendiri, mereka akan berada di sekelilingnya kemana pun dia pergi, meski nyawa taruhannya.

Pada saat yang sama, jenderal harus menjalankan otoritasnya dan selalu konsisten. Dia dapat dimusuhi tentaranya, jika menghukum mereka sebelum mereka mendapat kesempatan untuk mengenalnya dan membangun rasa percaya kepadanya. Kesetiaan menjadi kata kunci.

Seorang jenderal tidak akan mendapatkan prajurit yang baik jika dia tidak serius menuntut kepatuhan dari mereka yang setia kepadanya, atau jika dia gagal menekankan displin terhadap anggota pasukannya yang melanggar hukum dan peraturan. Dengan kombinasi keyakinan moral akan perang dan kedisiplinan, maka para prajurit akan bertindak seperti layaknya satu orang dan menjadi tak terkalahkan.

Seorang jenderal yang kuat dengan pasukan yang lemah atau seorang jenderal yang lemah dengan pasukan yang kuat adalah pertanda kekalahan.

Seorang jenderal tidak harus menjelaskan segala sesuatu secara detail ketika dia memberi perintah atau menetapkan target bagi prajuritnya. Bersikap tenang, berpikiran sehat, disiplin, adil, dan agak sulit dipahami. Ketika menghadapi ketidakpastian, dia harus memiliki fleksibilitas untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan keadaan, tidak boleh dibatasi dengan peraturan yang ada.

Pemimpin yang tidak bertanggung jawab, pemimpin yang takut mati, pemimpin yang mudah marah, pemimpin yang terlalu sensitif, dan pemimpin yang terlalu memikirkan keselamatan rakyat, merupakan kelemahan-kelemahan dari sang komandan pasukan yang berujung pada kegagalan.

Perencanaan Yang Cermat

Syarat utama untuk memenangi peperangan adalah membuat perencanaan yang cermat. Kemenangan harus terjamin sebelum seseorang maju berperang. Semakin cermat dalam membuat rencana sebelum pergi berperang, kemungkinan untuk menang semakin besar. Perencanaan yang kurang cermat akan menurunkan peluang untuk menang. Tidak adanya perencanaan akan menyebabkan kekalahan.

Jenderal yang baik tulis Michael, harus terbiasa dengan perbandingan kualitatif dan kuantitatif antara kekuatannya dan kekuatan lawan.

Jenderal menyusun beberapa skenario yang berbeda, kemudian merencanakan aksinya dan mengansitipasi aksi lawan dengan baik, memperhitungkan setiap faktor, baik faktor positif maupun faktor negatif dari setiap skenario. Dalam kondisi yang menguntungkan, dia tidak mengabaikan faktor negatif, maka ia akan yakin bahwa kemenangan akhir akan berada dipihaknya. Dalam kondisi tidak menguntungkan, dia tidak akan kehilangan faktor positif, maka ia akan dapat mempertahankan kepercayaan dirinya.

Bila jenderal mengetahui kekuatan pasukannya tapi tidak mengetahui kekuatan lawan, peluang untuk menang hanya 50%. Jika ia mengetahui kekuatan lawan tapi tidak mengetahui kekuatannya sendiri, peluang untuk menang masih 50%. Jika dia tidak mengetahui keduanya, peluangnya untuk menang tidak ada sama sekali.

Bila jenderal mengetahui kekuatan kedua belah pihak, tapi tidak mengetahui tempat yang tepat untuk bertempur, peluangnya untuk menang juga masih 50%. Hanya Jenderal yang mempunyai pengetahuan yang baik mengenai lingkungan, geografis, dan iklim yang terkait dengan perang yang akan dilakukan, yang akan menang.

Bila seorang jenderal mampu mengantisipasi kapan dan dimana akan berperang, dia dapat mengalahkan musuh meskipun harus menempuh ribuan mil untuk bertempur. Layaknya sebuah pertandingan sepakbola, pelatih mampu menghadirkan pemain sayap kiri untuk membantu (menyelamatkan) pemain sayap kanan, masuk menusuk ke daerah pertahanan lawan.

Cara Terbaik Untuk Menang

Satu pertimbangan penting sebelum pergi berperang adalah: “jika seseorang berperang, dapatkah ia menang?”.

Tulis Michael, seorang raja hendaknya tidak memulai sebuah perang karena ia marah. Seorang jenderal juga seharusnya tidak boleh berperang hanya karena ia membenci musuhnya. Seorang jenderal harus mewaspadai emosinya sendiri.

Kemarahan mungkin akan reda. Kebencian mungkin dapat padam. Akan tetapi, akibat dari perang tidak dapat diubah. Orang-orang yang mati dalam perang hilang untuk selamanya.

Cara yang terbaik untuk memenangkan perang adalah menang tanpa pertarungan, mengalahkan negara lawan tanpa membinasakannya, dan melemahkan prajurit musuh tanpa membunuh.

Berperang dalam 100 pertempuran dan memenangkan 100 pertempuran bukanlah best of the best. Mengalahkan musuh tanpa pertempuran, membuat musuh menyerah, membuat mereka melihat bahwa pihak lawan adalah sangat hebat sehingga tidak ada gunanya untuk melawan walau sekecil apapun. Inilah kemenangan yang paling hebat!.

Mungkin tidak menarik memenangi pertempuran dengan cara demikian. Karena dengan cara tersebut seorang jenderal tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan keberaniannya guna mendapatkan pujian dan penghargaan. Namun, ini adalah kemenangan yang paling baik.

Cara terbaik untuk memenangi peperangan adalah dengan mengalahkan strategi musuh secara keseluruhan. Cara terbaik kedua adalah mengalahkannya dalam percaturan politik dan diplomatik. Cara terbaik berikutnya adalah berperang melawan pasukan musuh.

Cara terburuk untuk memenangi perang adalah menempatkan mata-mata di daerah musuh dan mengalahkan mereka dengan menimbulkan kekacauan di dalam pasukan tersebut dengan menggunakan hasutan.

Anda tidak layak mendapatkan penghargaan apapun, jika mengalahkan musuh dengan cara perusakan massa yang hebat, Dan jika Anda memenangkan peperangan, tapi gagal untuk mengkonsolidasikan kemenangan dan mencapai tujuan dari strategi Anda, itu sama artinya dengan kekalahan.

Selanjutnya Strategi dan Taktik serta Tipu Muslihat pada Seni Berkompetisi Ala Sun Tzu part 2…

Seni Berkompetisi Ala Sun Tzu (part 2)Baca juga: Seni Berkompetisi Ala Sun Tzu (part 2)

About Author

Founder Kreditpedia | Financial Services Professional.. Read more

Leave A Reply

error: Content is protected !!