Multifinance dan Fintech, Mitra atau Kompetitor?

0

Hadirnya perusahaan fintech terus menstimulasi perubahan terhadap kegiatan usaha jasa keuangan konvensional. Berbagai layanan jasa keuangan seperti memberikan pinjaman, mengumpulkan dana, pembayaran dan transfer dana merupakan sektor yang paling berdampak oleh keberadaan fintech.

Lalu, apakah fintech akan melindas eksistensi industri multifinance? Apakah perusahaan fintech siap bersaing dengan perusahaan pembiayaan konvensional yang lebih dulu mapan dan dipercaya?.

Gelombang fintech berpotensi besar mengakibatkan disrupsi dalam industri jasa keuangan. Dan disrupsi yang ditimbulkan akan semakin besar jika suatu perusahaan fintech mengintegrasikan beberapa platform sekaligus, seperti lending, crowdfunding, payment system dan sebagainya.

Begitu perusahaan fintech diintegrasikan dengan berbagai platform sekaligus, maka ia akan mempunyai kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Tak pelak lagi itulah yang akan mendisrupsi industri jasa keuangan secara keseluruhan.

Adalah kegiatan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang menjadi porsi terbesar perusahaan multifinance yang diindikasikan terkena dampak pesatnya inovasi pembiayaan online (online financing).

Lebih spesifik lagi, layanan pembiayaan multiguna yang diprediksi akan bergesekan dengan layanan peer to peer (P2P) lending yang sudah dijalankan oleh perusahaan fintech.

Aplikasi fintech P2P lending memberikan layanan yang efisien dan cepat bagi para nasabah unbanked people yang membutuhkan dana tunai.

Aturan OJK Tentang Bisnis Peer to Peer Lending Yang Perlu DiketahuiBaca juga: Aturan OJK Tentang Bisnis Peer to Peer Lending Yang Perlu Diketahui

Jelas ini adalah tantangan bagi multifinance. Meskipun saat ini kondisi industri pembiayaan berjalan baik, bukan berarti perusahaan multifinance bisa berpuas diri dan menganggap everything is business as usual.

Perusahaan multifinance perlu merumuskan kembali bagaimana strategi penawaran produk dan layanannya, tidak lagi menggunakan jurus-jurus lama seperti yang diterapkan selama ini. Harus ada perluasan inovasi, kalau tidak berubah, bisa kalah dengan perusahaan fintech.

Sementara perusahaan fintech punya penawaran yang lebih kompetitif, sehingga mampu mencatatkan pertumbuhan yang cepat meskipun baru berkembang pada 5 tahun terakhir.

Namun demikian, perusahaan fintech tetap dapat dipandang sebagai mitra perusahaan multifinance. Sebagai mitra potensial yang dapat membantu meningkatkan kegiatan usaha pada berbagai sisi.

Berbagai bentuk kerjasama bisa digagas antara perusahaan multifinance dengan perusahaan fintech, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Perusahaan fintech dapat mendukung perusahaan multifinance dalam penyediaan model skoring kualitas kredit dan analisis risiko secara inovatif. Perusahaan fintech juga bisa menjadi pendukung untuk menawarkan produk pembiayaan berbasis online yang lebih inovatif.

Disisi lain, walaupun beberapa tahun ini layanan pembiayaan online marak, namun sebenarnya perusahaan fintech membutuhkan dana penunjang (back up financing) untuk kelangsungan bisnisnya. Dan posisi ini bisa diisi oleh perusahaan pembiayaan. Jelas fintech membantu perkembangan bisnis perusahaan multifinance.

Daftar Perusahaan Fintech Yang Terdaftar di OJKBaca juga: Daftar Perusahaan Fintech Yang Terdaftar di OJK

Selanjutnya, kekuatan dari teknologi digital makin menarik minat dari pelaku bisnis pembiayaan. Sejumlah multifinance pun turut mendirikan perusahaan fintech guna mendorong bisnis mereka.

Radana Finance bisa menjadi contoh, anak usaha TMT grup ini mengembangkan fintech berlabel Rajadana. Strategi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mendorong segmen pembiayaan multiguna. Perseroan juga bekerjasama dengan perusahaan e-commerce, melalui situs e-commerce tersebut konsumen dapat melakukan pengajuan pembiayaan.

Strategi serupa juga digarap Adira Finance, agar dapat selalu memenuhi kebutuhan konsumen seiring dengan perkembangan teknologi, anak usaha Bank Danamon ini memperkenalkan inovasi terbarunya yakni situs marketplace momobil.id.

Sejumlah perusahaan multifinance pun mulai memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung proses bisnis termasuk pemasaran produk. Penerapan teknologi informasi tersebut diharapkan bisa menjangkau lebih banyak nasabah sehingga meningkatkan volume pembiayaan.

Salah satunya adalah Home Credit, untuk menjawab tantangan fintech, HCI telah meluncurkan aplikasi My Home Credit. Sebelumnya, perusahaan telah mengembangkan fasilitas pembiayaan online dengan menggandeng perusahaan e-commerce maupun mitra online Home Credit .

Astra Credit Companies (ACC) juga mengembangkan online financing, begitupun Mandiri Tunas Finance. Teknologi digital diterapkan melalui penggunaan aplikasi mobile, yang berguna untuk pemasaran, proses kredit dan persetujuan kredit.

Demikianlah, pada akhirnya dampak utama fintech akan terlihat pada munculnya berbagai model bisnis jasa keuangan lainnya, yang akan membawa tantangan baik bagi pelaku usaha maupun regulator.

Peraturan Bank Indonesia Tentang Penyelenggaraan FintechBaca juga: Peraturan Bank Indonesia Tentang Penyelenggaraan Fintech

About Author

Founder Kreditpedia | Financial Services Professional.. Read more

Leave A Reply

error: Content is protected !!